Dalam keheningan malam di Mekah, saat jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul untuk melakukan ibadah di Tanah Suci, terdapat sebuah ironi yang menyakitkan hati. Tanah yang diinjak oleh jutaan umat Islam, yang datang dari seluruh penjuru dunia dengan harapan yang sama, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, terkadang tampak tidak seperti yang kita bayangkan—kotor.
Meskipun pekerja kebersihan dibayar dan bekerja keras siang malam, kenyataannya masih jauh dari harapan. Mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Dan mengapa negara-negara bukan Islam tampak lebih berhasil dalam menjaga kebersihan kawasan mereka?
Cerminan Ironi dalam Kebersihan
Konsep kebersihan dalam Islam bukan satu konsep yang baru. Melalui al-Quran dan Hadis, kita diajarkan bahawa kebersihan adalah sebahagian dari iman. Namun, refleksi kebersihan pada jamaah yang datang ke Mekah sering kali menimbulkan pertanyaan besar. Apakah pengertian kebersihan telah hilang dalam proses melaksanakan ibadah?
Mekah, yang seharusnya menjadi simbol kesucian dan kebersihan, terkadang dilanda sampah yang berserakan. Mulai dari botol plastik, sampah makanan, hingga kertas-kertas kecil yang tercicir. Tidak kurang juga dengan mereka yang meludah merata tempat. Ironisnya, di tanah yang seharusnya mewakili puncak kerohanian, terkadang terlihat kesan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam tentang kebersihan dan penghormatan terhadap alam.
Pencarian Ajaran yang Hilang
Mengapa fenomena ini dapat terjadi di salah satu tempat paling suci bagi umat Islam? Beberapa alasan mungkin datang dari kurangnya pemahaman atau penghargaan terhadap prinsip-prinsip Islam tentang kebersihan. Di sisi lain, ada juga faktor kebiasaan dari negara asal yang mempengaruhi perilaku ketika berada di tanah suci.
Salah satu refleksi yang mendalam adalah bagaimana jemaah haji—termasuk saya sendiri—mengejar ibadah tetapi lupa bahawa praktik ibadah tidak terlepas dari hakikat sebenar ajaran Islam. Kebersihan sebagai tonggak utama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT seringkali terabaikan, seolah-olah kita terjebak dalam ritual tanpa substansi, ibadah tanpa esensi.
Negara bukan Islam dan keberhasilan mereka dalam kebersihan
Saat kita membandingkan dengan negara-negara bukan Islam, terutama yang maju. Kita dapat melihat perbezaan ketara terhadap pengelolaan kebersihan.
Negara-negara seperti Jepun, Korea Selatan, Singapura, dan negara-negara Scandinavia seperti Sweden, Norway dan Denmark menunjukkan betapa kebersihan dan penghormatan terhadap alam sekeliling menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakatnya, bukan hanya peraturan yang ditulis di atas kertas.
Jepun, misalnya, dikenal dengan konsep ‘omotenashi’ atau keramahan yang mencakup pemeliharaan kebersihan sekeliling sebagai bentuk penghormatan terhadap diri dan orang lain. Sedangkan di Singapura, undang-undang yang ketat dan pendidikan sejak dini tentang kebersihan berhasil mewujudkan sebuah negara yang bersih dan tertata.
Apa yang Dapat Dilakukan?
Melalui refleksi ini, muncul pemikiran tentang apa yang dapat kita lakukan sebagai umat Islam untuk kembali kepada ajaran-ajaran dasar tentang kebersihan.
Cadangan Pertama: Pendidikan dan Kesedaran
Salah satu langkah penting adalah peningkatan edukasidan kesedaran tentang pentingnya kebersihan. Pendidikan ini tidak hanya ditujukan kepada penziarah yang datang, tapi juga harus menjadi sebahagian dari kurikulum pendidikan bagi generasi muda di seluruh negara Islam. Kempen tentang kebersihan dapat lebih digalakkan melalui berbagai media, termasuk sosial media, poster, dan pengumuman langsung di Masjidil Haram dan tempat-tempat strategis lainnya. Mengutip QS al-Baqarah (2:222) yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang bersuci,” dapat menjadi penguat kepada pesanan ini.
Cadangan Kedua: Integrasi Teknologi
Penggunaan teknologi penanganan sampah bisa menjadi solusi inovatif.
Contohnya, pemasangan tempat sampah pintar yang bisa memberitahu petugas saat hampir penuh atau bahkan memilah (sorting) sampah secara automatik. Teknologi ini dapat mengurangi kelelahan petugas dan memastikan sampah ditangani secara efisien. Selain itu, aplikasi mobil yang dirancang khusus untuk para jemaah, yang di dalamnya berisi informasi dan pengingat tentang kebersihan, bisa menjadi alat bantu yang efektif.
Cadangan Ketiga:
Sistem pendendaan
Penerapan sistem pendendaan bagi yang tertangkap membuang sampah sembarangan bisa menjadi salah satu cara untuk mengawal perilaku penziarah. Sistem ini mungkin terdengar keras, tetapi telah terbukti efektif di banyak negara, seperti Singapura. Pendendaan ini bukan hanya sekadar untuk menghukum, tetapi lebih kepada mendidik dan mengubah perilaku.
Cadangan Keempat: Kerjasama antarabangsa
Kerja sama antarabangsa, khususnya antar negara-negara Islam, sangat penting dalam mewujudkan Mekah sebagai negara terbersih di dunia. Kerja sama ini bisa dalam bentuk pertukaran informasi, teknologi kebersihan, atau bahkan pembentukan pasukankebersihan lintas negara yang bertugas khusus selama musim haji. Kerja sama ini jelas memperlihatkan bahawa perjuangan menjaga kebersihan adalah perjuangan bersama umat Islam di seluruh dunia.
Cadangan Kelima: Penglibatan komuniti setempat
Terakhir, penglibatan komuniti setempat dan para jemaah secara lebih aktif.
Selain sebagai pelaksana, komuniti lokal ini boleh berperan sebagai pemantau dan pengingat bagi para jemaah lainnya. Program buddying, di mana satu kelompok jemaah dari luar bergabung dengan jemaah tempatan yang mengetahui akan kawasan sekitar dan aturan setempat, bisa mengurangi kesenjangan maklumat dan meningkatkan kepatuhan terhadap aturan kebersihan.
Refleksi untuk kebersamaan
Kebersihan dalam Islam bukan sekadar tugas individu tapi tugas bersama.
Saat kita semua, sebagai umat Islam, memperbaiki cara kita menghargai dan melaksanakan prinsip kebersihan, kita tidak hanya menunjukkan esensi sejati dari ajaran Islam kepada dunia, tapi juga merawat tanah suci sebagai warisan spiritual yang harus dijaga.
Melalui pengalaman haji yang penuh dengan kontradiksi ini, saya mempunyai harapan baru. Harapan bahawakita semua bisa memandang kebersihan bukan hanya sebagai ajaran tetapi sebagai praktik kehidupan sehari-hari.
Dengan menjadikan kebersihan sebagai komitmen bersama, kita dapat mengubah wajah tanah suci dan membuktikan kepada dunia bahawa Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah spiritual dan tanggung jawab sosial.
Penutupnya, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf (7:31): “Makanlah dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” Ayat ini, meski konteksnya tentang penggunaan, juga kita boleh renungkan dalam konteks menjaga kebersihan dan keseimbangan alam sekitar. Mari kita menjadi umat yang tidak hanya beribadah dengan ritual, tapi juga dengan tindakan nyata yang mencerminkan ekspresi kasih sayang kita terhadap ciptaan Allah SWT, termasuk diri kita dan sekeliling kita. –UTUSAN










