“EEEEK OOUKKK! Eeeek oouukkk!”Kicau merbah kunyit. Seperti selalu, burung itu menjengah di pohon bebuas sebelah jendela dapur kami. “Hah, dah datang!” Abahcepat-cepat memilih sebiji pisang emas yang ranum. Pisang itu pasti akan diletakkan di tempat merbah selalu bertenggek, yakni di ranting bebuas, pokok ulam Emak. Merbah kunyit mengibar sayapnya dan menayangkan dadanya yang kuning menyala. Mendada saja ia, seolah-olah tahu sedang diperhatikan. Benar, ia burung yang begitu mempesonakan. Namun, awas,…










