Diplomasi agama Anwar, Prabowo perkuat Malaysia-Indonesia

Diplomasi agama Anwar, Prabowo perkuat Malaysia-Indonesia

DIPLOMASI agama yang diusung oleh Anwar dan Prabowo memiliki potensi besar untuk memperkuat hubungan Malaysia-Indonesia dan meningkatkan peranan kedua-dua negara di dunia global.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

DIPLOMASI dalam hubungan antara negara bukan hanya soal pertemuan formal antara pejabat negara, tetapi juga mencakup aspek-aspek budaya dan agama yang menjadi jambatan komunikasi antarabangsa.

Dalam konteks hubungan Malaysia dan Indonesia, dua tokoh sentral, yakni Datuk Seri Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri Malaysia dan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan Presiden Terpilih Indonesia memainkan peranan penting dalam memperkuat hubungan kedua-dua negara melalui apa yang dapat disebut sebagai diplomasi agama.

Diplomasi agama ini menjadi alat strategis untuk memperdalam hubungan bilateral, sekaligus meningkatkan posisi Malaysia dan Indonesia di kancah dunia global.

Anwar, sejak awal karier politiknya, telah dikenal sebagai seorang ahli politik yang memadukan pemikiran Islam progresif dengan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan sosial.

Sebagai seorang yang lama berkecimpung dalam gerakan-gerakan Islam antarabangsa, Anwar selalu mengusung naratif Islam yang inklusif, moderat, dan toleran.

Dalam pandangannya, Islam bukan hanya soal praktik keagamaan, tetapi juga pedoman hidup yang mendorong keadilan sosial dan keharmonian antara umat beragama.

Di kancah antarabangsa, Anwar aktif mempromosikan idea-idea Islam Madani (Islam moderat), yang dianggap sebagai nilai-nilai penting dalam menghadapi tantangan global seperti ekstremisme, radikalisme, dan ketidakadilan.

Melalui pendekatan ini, Anwar secara efektif telah membangun jaringan diplomasi agama yang menghubungkan Malaysia dengan negara-negara Islam lainnya, serta negara-negara Barat yang ingin memahami peranan Islam dalam politik moden.

Dalam bukunya, The Asian Renaissance (1996), Anwar menegaskan pentingnya kebangkitan Asia yang mencakup kebangkitan Islam moderat dan hubungan yang harmonis antara tradisi keagamaan dan kemajuan moden.

Pemikiran ini diimplementasikan melalui kebijakan luar negeri yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, dialog antara agama, dan toleransi global.

Sementara itu, Prabowo, meskipun lebih dikenal sebagai figura anggota tentera dan politikus dengan berasaskan nasionalisme, juga menggunakan diplomasi agama dalam posisinya sebagai Menteri Pertahanan.

Prabowo, yang memiliki hubungan baik dengan berbagai organisasi Islam di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memahami pentingnya menjaga kestabilan politik domestik dengan melibatkan unsur agama dalam pendekatan keamanan dan hubungan antarabangsa.

Prabowo aktif mendukung naratif Islam rahmatan lil alamin (Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam) yang juga diusung oleh NU dan Muhammadiyah.

Dalam konteks ini, diplomasi agama yang dilakukan oleh Prabowo difokuskan pada kerjasama dengan negara-negara majoriti Muslim lainnya, terutama dalam mempromosikan moderasi dan mencegah penyebaran radikalisme.

Di Asean, Prabowo memainkan peranan penting dalam mengedepankan nilai-nilai Islam moderat sebagai penyeimbang dalam menghadapi pengaruh global yang boleh memperkeruh situasi politik.

Gus Dur (Abdurrahman Wahid), dalam salah satu pidatonya, menyebut bahwa Prabowo memahami betul pentingnya menjaga harmoni antara kekuatan agama dan nasionalisme.

Dalam konteks diplomasi, hal ini tercermin dalam kebijakan luar negeri yang sering mengedepankan kerjasama multilateral berasaskan agama, seperti yang terlihat dalam kerjasama Indonesia dengan Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya.

Kolaborasi antara Anwar dan Prabowo dalam diplomasi agama membuka peluang bagi Malaysia dan Indonesia untuk mempromosikan Islam moderat di tingkat global.

Kedua-dua negara memiliki posisi strategis sebagai negara majoriti Muslim terbesar di Asia Tenggara, yang memungkinkan mereka untuk menampilkan citra positif Islam di tengah meningkatnya Islamofobia di Barat dan ancaman radikalisme.

Anwar dan Prabowo dapat memperkuat kerjasama di Asean dalam menghadapi isu-isu lintas batas seperti radikalisasi dan ekstremisme agama.

Selain itu, mereka dapat mempromosikan Islam moderat di forum seperti Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) dan Pertubuhan Kerjasama Islam (OIC).

Kerjasama dalam bidang pendidikan Islam juga dapat ditingkatkan melalui diplomasi agama, di mana universiti-universiti ternama di Malaysia dan Indonesia mampu menjadi pusat penyebaran nilai-nilai Islam moderat yang inklusif.

Ini akan membantu membentuk generasi muda Muslim yang lebih toleran dan terbuka terhadap perbezaan.

Meskipun diplomasi agama menawarkan banyak peluang, Anwar dan Prabowo juga menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat domestik mahupun antarabangsa.

Salah satu tantangan terbesar adalah penyebaran radikalisme dan ekstremisme agama, yang masih menjadi ancaman serius di Malaysia dan Indonesia.

Untuk mengatasi ini, diperlukan pengukuhan pendidikan Islam moderat di kampus-kampus, pesantren, dan sekolah.

Anwar dan Prabowo dapat mempromosikan program pertukaran pendidikan yang menekankan naratif moderasi Islam.

Selain itu, politik identiti dan nasionalisme sering kali memicu ketegangan domestik.

Anwar harus menghadapi isu-isu terkait ketegangan antara Islam dan identiti kebangsaan Melayu di Malaysia, sementara Prabowo di Indonesia harus menyeimbangkan antara Islam dan Pancasila sebagai ideologi nasional.

Kedua-duanya perlu memperkuat naratif bahawa Islam dan nasionalisme dapat berjalan beriringan, dengan mengedepankan konsep-konsep seperti Malaysia Madani dan Pancasila yang inklusif.

Di tingkat global, keduanya menghadapi tantangan dalam membawa naratif Islam moderat, terutama di tengah skeptisisme di negara-negara Barat.

Anwar dan Prabowo harus memperkuat diplomasi melalui dialog antara agama, pertukaran budaya, dan forum antarabangsa untuk mempromosikan Islam sebagai kekuatan perdamaian dan kestabilan.

Diplomasi agama yang diusung oleh Anwar dan Prabowo memiliki potensi besar untuk memperkuat hubungan Malaysia-Indonesia dan meningkatkan peranan kedua negara di dunia global.

Dengan pendekatan yang inklusif, pendidikan agama yang moderat, dan dialog lintas agama, kedua pemimpin ini dapat menghadapi tantangan radikalisme dan politik identiti, serta mempromosikan Islam moderat sebagai kekuatan untuk perdamaian dan kestabilan global. – UTUSAN

NUR Syamsudin adalah Pensyarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dan Peneliti Pusat Analisis Politik Jaringan Malaysia-Indonesia (CPAMIN).

Tidak mahu terlepas? Ikuti kami di

 

BERITA BERKAITAN