Empat belas tahun lalu
dunia bercerita tentang duka
duka yang tidak dapat
digambar sedihnya
meski dengan air mata
yang tidak mengenal
erti reda
Itulah duka Acheh
bila nyawa manusia
menjadi korban
segerombolan malapetaka Tuhan
yang sudah tiada belas
meragut nyawa manusia
Hari ini
belum sempat parut lama hilang
Tuhan datangkan peringatan
melalui segerombolan gempa
juga selaut badai raksasa
melahap rakus ribuan manusia
berdosa mahupun tidak berdosa
Bumi Palu menjadi gersang
tanahnya kering ditumbuhi mayat
rumah-rumah semuanya ranap
yang tinggal hanya puing
juga suara-suara duka
sebuah bangsa
Ada pun tangis
di celah-celah runtuhan
hanyalah suara-suara mereka
yang tidak sampai
ke cuping telinga
Palu,
tanahmu adalah
sebuah peringatan
tentang betapa
Maha Agung al-Khaliq
tanahmu juga tempatku
memadam noda silam
dan aku tak akan melupakan masa-masa kelam ini
dalam memori yang sarat
dengan dukamu Palu
Begitu sebuah derita bangsa
mampu kudengari
dengan hanya air mata
juga semerbak doa
untukmu Palu
TULISAN ANGIN
Jemoreng Matu, Sarawak










