Perahu lancang kuning

Perahu lancang kuning

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

Di sebuah kampung kecil yang terletak di tepi sungai besar. Pekerjaan penduduknya sebagai nelayan. Mereka tak kenal lelah dan tak pernah gentar menentang arus deras sungai atau badai.

Namun, sejak dahulu ada satu hal yang tak pernah mereka lakukan. Mereka tak pernah berlayar melewati titik tertentu di hulu sungai. Kawasan yang dianggap menyeram dan menakutkan oleh penduduk kampung.

Menurut cerita, kawasan itu terdapat Perahu Lancang Kuning yang misteri. Perahu milik seorang pelaut kaya zaman dulu yang meninggal dunia dalam keadaan mengerikan. Perahu tersebut terlihat megah, berwarna kuning keemasan. Dihiasi ukiran halus yang berkilau di bawah sinar bulan. Namun, tak seorang pun yang berani mendekatinya. Siapa pun yang mencuba mendekat akan mengalami nasib buruk.

Suatu malam yang gelap Pak Deris dan beberapa nelayan lain berkumpul di tepi sungai setelah pulang memukat ikan. Malam itu, arus sungai terasa lebih tenang dari biasanya dan langit dipenuhi bintang-bintang. Dalam suasana yang tenang tersebut, Pak Salim berbincang dengan sahabat karibnya Pak Deris.

“Deris, kau percaya tentang cerita Perahu Lancang Kuning itu?” tanya Pak Salim tiba-tiba sambil memandang jauh ke arah hulu sungai.

“Ah, itu hanya cerita orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak. Tidak ada perahu yang dapat bergerak sendiri atau membawa kutukan,” katanya dengan percaya diri.

Malam itu tanpa diketahui oleh keduanya, seseorang mendengarkan percakapan mereka. Orang tersebut adalah Pak Leman. Dia mendekati keduanya dengan tatapan serius.

“Jangan bicara sembarangan tentang Perahu Lancang Kuning, Deris,” katanya dengan nada memperingatkan.

“Perahu itu bukan mitos biasa. Banyak yang telah hilang kerana kesombongan mereka. Kau tak tahu apa yang terjadi jika kau meremehkannya.”

Pak Deris hanya tersenyum tak acuh. Meski begitu, ada sedikit rasa ingin tahu dalam dirinya. Bagi seorang nelayan yang berani seperti dia, larangan dan cerita mistik seperti itu membuatnya ingin tahu lebih dalam.

Keesokan harinya tanpa sepengetahuan penduduk kampung, Pak Deris memutuskan untuk belayar lebih jauh dari biasanya. Dia menuju titik di mana Perahu Lancang Kuning konon sering muncul. Sungai itu kelihatan sangat tenang. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat suasana mendadak berubah. Angin bertiup kencang. Kabut tebal mulai menyelimuti sungai dan langit yang tadinya cerah mulai digantikan oleh awan kelabu yang bergulung-gulung.

Pak Deris meneruskan perjalanannya. Meski hatinya mulai diliputi keraguan. Tiba-tiba di tengah kabut yang semakin pekat, terlihatlah perahu megah berwarna kuning yang belayar perlahan.

Bentuknya sangat indah dengan layar besar yang kelihatan gagah di tengah arus yang tenang. Hati Pak Deris berdegup kencang. Dia tahu bahawa di depan matanya kini adalah perahu yang selama ini dianggap sebagai mitos. Namun, naluri ingin tahunya terlalu kuat untuk diabaikan.

Perlahan Pak Deris mendayung lebih dekat ke arah Perahu Lancang Kuning. Saat jaraknya hanya beberapa meter, dia mulai merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Seolah-olah udara di sekitarnya membeku. Semakin dekat, dia melihat sosok-sosok samar berdiri di atas perahu itu seperti bayangan manusia yang tidak memiliki wajah.

Pak Deris terpaku, tidak mampu bergerak atau berbicara. Tiba-tiba, salah satu bayangan itu menoleh ke arahnya dengan gerakan lambat. Mata kosongnya menatap tepat ke mata Pak Deris.

Dalam sekejap suasana berubah. Angin mendadak bertiup kencang, ombak kecil mulai terbentuk mengayun-ayunkan perahu kecil milik Pak Deris dengan keras. Sosok-sosok di atas Perahu

Lancang Kuning mendekat, mengulurkan tangan mereka yang panjang dan tipis. Seolah ingin menarik Pak Deris ke dalam perahu mereka.

Pak Deris berusaha mengayuh perahunya menjauh. Namun tubuhnya terasa berat dan kaku seperti ada yang menahannya. Suara bisikan mulai terdengar di telinganya mengucapkan kata-kata dalam bahasa yang tak dia mengerti. Meski begitu, Pak Deris dapat merasakan maknanya. Sebuah peringatan untuk tidak pernah mendekati perahu tersebut lagi.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Pak Deris mencuba melawan ketakutan yang mencengkam. Dia menarik dayung sekuat tenaga dan berusaha membawa perahunya menjauh dari

Perahu Lancang Kuning. Suara-suara bisikan itu semakin keras, memekakkan telinganya hingga dia merasa seakan kepalanya akan meledak. Namun pada akhirnya, dia berhasil membawa perahunya keluar dari kabut tebal yang melingkupi kawasan tersebut.

Saat kabut mulai menghilang dan Perahu Lancang Kuning tidak lagi terlihat. Pak Deris terkapar di atas perahunya dengan tubuh yang gementar. Matanya memandang ke langit yang perlahan mulai cerah. Dia menyedari betapa tipisnya batas antara dunia manusia dan dunia gaib yang baru saja dia saksikan.

Ketika dia sampai ke kampung, tubuhnya longlai dan suaranya serak. Pak Deris mencari Pak Leman dan menceritakan pengalamannya. Penduduk kampung berkumpul di sekitar mereka, mendengarkan kisahnya dengan bercampur ketakutan.

Kini, mereka tahu bahwa Perahu Lancang Kuning bukan hanya mitos, melainkan kenyataan yang menyeramkan.

Sejak saat itu, Pak Deris tak pernah lagi berani mendekati titik menyeram di hulu sungai. Setiap kali dia melihat kabut tebal mulai menyelimuti sungai, dia langsung berbalik dan pulang tanpa ragu. Dia tahu bahawa Perahu Lancang Kuning adalah pertanda dari alam ghaib.

Setiap malam bulan purnama, penduduk kampung mendengar suara dayung perlahan di sungai seperti Perahu Lancang Kuning belayar. Mengawasi hulu sungai dari tangan-tangan manusia yang terlalu berani menyentuh rahsia dunia ghaib.

Malam berikutnya suasana kampung yang biasanya tenang mendadak berubah. Penduduk kampung mulai diliputi rasa takut yang tak biasa, terutama saat malam tiba dan kabut tebal menyelimuti sungai. Tidak seorang pun berani mendekati sungai. Bahkan nelayan yang biasa memukat pun enggan pergi memancing ketika petang mulai berubah kelam. Mereka takut pada

Perahu Lancang Kuning.

Pak Deris sendiri, meskipun berusaha meyakinkan dirinya bahawa pengalaman itu hanyalah sekadar khayalan. Namun tak dapat melupakan bayangan sosok-sosok tanpa wajah di atas Perahu Lancang Kuning. Setiap kali ia menutup mata, terbayang mata kosong sosok-sosok itu yang seolah memandangnya dengan tatapan yang dalam dan menakutkan.

Dan sejak malam itu, suara-suara bisikan yang dia dengar di tengah kabut terasa terus mengikuti. Berputar-putar dalam pikirannya. Bayangan-bayangan gelap itu menghantuinya.

Minggu berikutnya, saat malam bulan purnama terjadi hal yang lebih mengerikan lagi. Kampung itu mendadak ketakutan oleh suara riuh yang terdengar dari arah sungai. Suara itu seperti suara dayung besar yang menghentam air. Diiringi suara kayu yang berderak dan angin yang menderu-deru.

Penduduk kampung yang terbangun kerana suara itu mulai keluar dari rumah mereka dan menatap sungai dengan ketakutan. Di kejauhan, samar-samar terlihat cahaya kuning berkilau di atas permukaan sungai yang tertutup kabut. Seolah-olah Perahu Lancang Kuning sedang belayar perlahan ke arah kampung.

“Ya Tuhan, itu perahunya!” bisik Mek Limah sambil menggenggam tangan anaknya yang ketakutan.

Mata penduduk kampung tertuju ke arah cahaya itu. Mereka semua merasakan hawa dingin dari sungai. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat jahat yang sedang mendekat. Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa lirih yang datang entah dari mana, menggema di antara pepohonan tepi sungai. Tawa itu terdengar begitu menakutkan seperti berasal dari makhluk gaib.

Pak Deris, yang berdiri di tepi sungai bersama penduduk lain merasakan bulu tengkuknya meremang. Tawa itu sangat mirip dengan suara bisikan yang dia dengar di malam kejadian.

Dia menatap ke arah kabut tebal di atas sungai dengan tatapan ngeri. Dia berharap pemandangan di depan matanya hanyalah sebuah mimpi. Namun, tawa itu semakin keras, mendekat dan menggetarkan seluruh kampung.

“Tutup pintu rumah kalian! Jangan ada yang keluar sampai matahari terbit!” seru Pak Leman yang dianggap bijak di desa itu. Dengan segera penduduk desa berlarian ke dalam rumah masing-masing. Menutup pintu dan jendela dengan rapat. Berharap suara tawa itu segera hilang.

Namun, gangguan dari Perahu Lancang Kuning tidak berhenti begitu saja. Malam-malam berikutnya, penduduk kampung yang tinggal di tepi sungai mulai mendengar suara ketukan perlahan di pintu rumah mereka pada tengah malam. Suara itu terdengar seperti ketukan biasa. Namun ada sesuatu yang aneh pada bunyi dan kekuatannya seperti ada makhluk yang tak sabar menunggu pintu dibuka.

Di rumah Pak Salim, suara ketukan itu terdengar setiap malam. Tepat di tengah malam. Dia mencuba untuk tidak menghiraukannya. Namun ketukan itu semakin keras dan semakin mendesak membuatnya tidak dapat tidur. Hingga suatu malam, dia akhirnya memutuskan untuk mengintip dari balik jendela.

Ketika dia menyingkap tirai jendelanya dengan tangan gementar, dia terkejut melihat sosok hitam berdiri di luar. Wajah tidak berbentuk hanya berupa bayangan gelap yang memandang lurus ke arahnya. Sosok itu berdiri dengan tubuh yang kaku. Matanya berupa lubang hitam yang menyorotkan cahaya yang dingin dan menakutkan.

Pak Salim menjerit ketakutan dan dalam kepanikannya, dia segera menutup tirai jendela dan berlari ke kamar tidurnya. Sejak saat itu, dia mengalami demam dan sering berteriak ketakutan saat tidur. Seolah-olah masih melihat sosok itu dalam mimpinya.

Kisah tentang gangguan itu menyebar dengan cepat di kampung. Penduduk kampung semakin ketakutan dan banyak yang percaya bahawa ini adalah kutukan dari Perahu Lancang Kuning kerana ketidaksopanan yang pernah dilakukan oleh seseorang di kampung. Pak Deris menjadi semakin gelisah.

Dia merasa bahawa seluruh kejadian ini mungkin akibat daripada keberaniannya mendekati Perahu Lancang Kuning. Namun, dia tak dapat melakukan apa-apa untuk hentikan semua ini kecuali berdoa agar malam-malam yang menyeramkan ini segera berakhir.

Suatu malam, beberapa pemimpin kampung akhirnya berkumpul di rumah Pak Leman untuk mencari cara mengatasi gangguan yang terus menghantui kampung mereka. Mereka sepakat untuk melakukan ritual permohonan maaf di tepi sungai berharap arwah yang menghuni Perahu Lancang Kuning mahu menerima permintaan mereka.

Di tengah malam di bawah sinar bulan purnama, para pemimpin kampung melakukan ritual itu. Mereka menyiapkan sesaji berupa makanan dan bunga-bunga. Lalu menyalakan dupa yang harum untuk menghormati makhluk-makhluk ghaib penunggu sungai.

Pak Deris, yang merasa bertanggungjawab atas kejadian ini, ikut serta dalam ritual tersebut dan memohon maaf di hadapan sungai berharap agar kutukan yang menimpa kampung segera hilang.

Saat mereka sedang berdoa, tiba-tiba angin berhembus kencang dari arah sungai membuat nyala api lilin padam dan dupa mereka terbawa angin. Kabut tebal muncul menyelimuti tempat mereka berdiri.

Dan dalam dalam kabut itu, mereka melihat sesuatu yang mengerikan Perahu Lancang Kuning muncul. Melayang di atas air dengan cahaya kuning keemasan yang menyilaukan. Di atasnya, sosok-sosok tanpa wajah berdiri tegak menatap lurus ke arah mereka dengan mata hitam yang kosong.

Para pemimpin kampung gementar ketakutan. Namun mereka tetap berdiri tegak menahan rasa takut yang menghantui mereka. Pak Deris dengan suara bergetar memohon ampun sekali lagi.

Berharap makhluk-makhluk itu akan pergi segera.

Satu persatu sosok di atas perahu itu menghilang dan akhirnya Perahu Lancang Kuning perlahan-lahan menjauh dan menghilang ke dalam kabut.

Angin kembali tenang dan suasana di sekitar sungai pun berubah menjadi sunyi. Para pemimpin kampung menarik nafas lega.

Sejak malam itu, kampung kembali tenang dan gangguan dari Perahu Lancang Kuning tidak pernah muncul lagi. Namun bagi penduduk kampung, kisah tentang perahu misteri itu tetap menjadi kenangan yang menakutkan.

Pak Deris dan para nelayan lainnya pun kini selalu berhati-hati. Tidak pernah lagi mendekati tempat di mana Perahu Lancang Kuning pernah terlihat. Bagi mereka, sungai itu kini tidak sekadar sumber kehidupan tetapi juga pengingat akan batas-batas yang tidak boleh dilanggar. – UTUSAN

Tidak mahu terlepas? Ikuti kami di

 

BERITA BERKAITAN