Senja di hujung kasih

Senja di hujung kasih

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email
Share on telegram

Senja merangkak perlahan, bagai doa yang merayap dari luka usang, lembut namun sarat rahsia. Aku bersandar pada kerusi malas yang retak-retak di beranda rumah, memandang pohon ceri yang daunnya gugur satu demi satu, seperti air mata waktu yang meratapi usia. Angin petang menyapu dedaunan kering, membawa bisik kenangan yang merindu untuk dipeluk kembali, seolah masa lalu adalah kekasih yang tak rela dilupakan.

Dari bilik dalam, Halimah, isteriku, terlena dalam balutan keletihan, tubuhnya yang rapuh masih setia menata ubat-ubatan yang menyesakkan rak, bagai menolak takdir yang perlahan merenggutnya.

Kami, di rumah kecil ini, adalah bayang-bayang masa lalu—dua jiwa tua yang ditinggalkan dunia, seperti manuskrip kuno yang terlupa di rak perpustakaan.

Anak-anak kami—Amir, Salwa, Faizal, Hanis, dan Syakir—masih tinggal bersama, namun jiwa mereka hanyut dalam lautan digital. Rumah ini tak lagi bergema dengan tawa atau cerita hangat, melainkan suara-suara tinggi yang bersilang, bercampur notifikasi dan siaran langsung yang menjadi pentas perbalahan.

Dunia mereka adalah skrin kecil di genggaman, dan kami—ayah dan ibu—hanyalah aksara pudar dalam kitab yang tak lagi mereka baca.

“Abang, esok ke hospital lagi?” Suara serak Halimah mengalir, bagai alunan biola yang nyaris putus senarnya.

“Ya, pukul sepuluh,” jawabku perlahan, suaraku seakan tak ingin mengusik kedamaian senja.

Tiada anak kami yang peduli. Mereka ada, namun seakan tiada. Aku bagai daun tua yang terlepas dari dahan, melayang tanpa diperhatikan, akhirnya tersapu angin ke sudut laman sepi.

Dulu, mereka berebut duduk di ribaku, merengek minta didodoikan, tawa mereka seperti loceng kecil yang berdenting di hati. Kini, aku hanyalah bayang yang melintas di lorong rumah, tak lagi pelabuhan bagi cerita mereka.

Aku menasihati, berkali-kali, walau suaraku terasa seperti angin yang berbisik pada batu karang.

“Amir, kamu abang. Tegur adik-adik bila mereka melampau.”

“Ayah tak faham, zaman sekarang lain,” balasnya, seakan aku pelancong asing di negeri mereka.

“Salwa, jangan sindir Faizal di media sosial. Itu memalukan.”

“Ayah tak tahu cerita sebenar. Jangan masuk campur,” katanya, tajam bagai pisau yang tak sengaja mengiris.

Aku tak marah, hanya kecewa, seperti pelaut yang menanti kapal pulang, namun hanya ombak yang menyapa. Seorang ayah, walau pernah berlapar demi anak-anak, tak pernah cukup faham di mata mereka.

Malam itu, usai solat Isyak, aku termenung di atas sejadah, bagai pohon tua yang merenung bayangnya di telaga. Halimah, di sampingku, mengemaskan telekung dengan tangan gemetar.

“Abang termenung apa lama sangat?” Tanyanya, suaranya lembut seperti embun pagi.

“Rasa sepi, Mah. Anak-anak masih ada, tapi macam tiada.”

“Dulu mereka peluk kita, berebut cerita. Sekarang, peluk telefon, cerita mereka masuk story WhatsApp, Facebook, TikTok,” balasnya, dengan senyum pahit bagai lukisan retak di dinding tua.

Kenangan datang bagai ombak tak terbendung. Aku teringat masa kecil mereka—Amir dengan demam panasnya, aku berjaga malam, menempelkan tuala basah di dahinya, berdoa agar panas reda.

Salwa, dengan sanggul dua, bercerita tentang langit senja yang berubah warna, bagai lukisan Tuhan yang tidak selesai.

Faizal, dengan seluar pendek, mengheretku ke laman untuk main bola, ketawanya pecah seperti kaca jatuh. Hanis menyimpan lukisan di bawah katil, memaksaku meneka makna garis-garis abstraknya.

Syakir, si bongsu, tidur dengan tanganku di dadanya, seakan degup jantungku adalah lagu pengantar tidurnya. Semua itu kini seperti mimpi basah, pudar di hujung ingatan.

Tapi kenangan lain, dari zaman mudaku, juga menyapa, bagai angin yang membawa aroma bunga dari negeri jauh. Dulu, aku adalah pemuda liar, bagai angin yang tak rela terkurung.

Pada usia 20, aku melangkah ke New Zealand untuk mengejar ijazah pertanian, sebuah impian yang ku junjung seperti bintang di langit malam. Waikato, dengan bukit hijau bagai permadani dan langit biru seperti kaca, mencuri hatiku.

Adik-adikku—Zainal, Mariam, dan Latifah—hanya bayang di hujung ingatan. Surat ibuku, penuh rintihan tentang Zainal yang degil atau Mariam yang merindu, sering kuabaikan.

Aku lebih suka petang di tepi Sungai Waikato, membaca di bawah pohon willow, atau berkumpul di kafe kecil dengan rakan pelajar antarabangsa. New Zealand bagai kekasih yang merayu dengan keindahan dan kebebasan.

Aku ingat musim panas di Dunedin, mendaki Bukit Baldwin, tertawa di bawah matahari lembut, bagai kanak-kanak yang baru menemukan dunia.

Di sana, aku bertemu Aroha, wanita Maori dengan mata seperti danau dalam dan senyum hangat bagai api unggun. Dia bercerita tentang taniwha yang menjaga sungai, lagu-lagu puha neneknya. Hatiku terpaut, seperti layar yang menemukan angin. Kami berjalan di pantai Piha, pasir hitam menjadi saksi bisik cinta kami. Aku bermimpi menjadi permastautin tetap, mengikat janji dengannya di bawah langit luas.

Namun, cinta itu bagai bunga musim semi—indah, tetapi rapuh. Aku terlalu asyik dengan dunia baru, lupa tanggungjawab di kampung halaman.

Zainal terlibat dengan kawan salah, Mariam merasa sepi, Latifah hanya tahu namaku dari cerita ibu. Aku, bagai burung yang terbang jauh, tak menyedari rapuhnya rumah yang kutinggalkan.

Hingga telegram tiba, bagai petir di siang bolong: ayahku meninggal, jantungan di kebun. Dunia yang ku junjung runtuh, seperti istana pasir disapu ombak.
Ibuku meminta aku pulang: “Zainal perlu bimbingan, Mariam dan Latifah perlu abang. Aku tak mampu seorang diri.” Setiap kata bagai pisau menghiris hati.

Malam itu, di tepi Lake Wakatipu, aku memandang air berkilau di bawah bulan. Aroha memegang tanganku.

“Kau akan kembali, kan?” Tanyanya, suaranya lembut seperti angin musim luruh. Aku ingin berjanji, tapi beban tanggungjawab bagai batu besar di dada.

Aku pulang, meninggalkan New Zealand dengan hati terbelah, seperti pohon retak di badai. Aroha mengirim surat, penuh rindu, bagai puisi di tepi laut.

Tapi aku, sibuk membimbing Zainal, membantu Mariam, mengendong Latifah, tak sempat membalas.

Surat-surat itu berhenti, seperti sungai kering di musim kemarau. Cinta itu pudar, bukan kerana tiada kasih, tetapi kerana takdir menulis jalan lain.
Di kampung, aku belajar menjadi abang, ayah kedua bagi adik-adikku.

Zainal perlahan-lahan mendengar, seperti tanah gersang yang menerima air. Mariam melangkah ke universiti, Latifah sering memelukku, berkata, “Abang macam ayah.”

Ibuku, dengan senyum syukur, bagai pelita di malam gelap. Kenangan New Zealand tinggal seperti lagu lama, sesekali berdendang dalam diam.

Kembali ke masa kini, rumah menjadi gelanggang. Salwa dan Faizal bertikam lidah, kata mereka bagai petir menyambar. Amir mencelah, memperuncing, seperti minyak ke api. Hanis memuat naik drama ke TikTok, kapsyen

“Drama keluarga part 1,” seakan hidup kami sandiwara. Syakir memerhati, diam seperti telaga menyimpan rahsia.

Aku bangun, bertongkat, langkahku bagai kapal tua di lautan tenang. Sejak strok enam tahun lalu, tubuhku asing. Aku pernah lupa segalanya, bahkan nama Halimah dan anak-anak.

Berbulan-bulan aku belajar mengenal mereka, seperti menyusun mozaik pecah. Kudratku tak pulih, kadang di kerusi roda, kadang bertongkat, tapi aku belajar syukur, seperti burung yang bernyanyi walau sayap patah.
“Cukup!” Suaraku menggetar, bagai gema dari gunung.

Anak-anak terdiam, waktu membeku.

“Ayah bukan hantu di rumah ini. Ayah masih ada, masih bernafas. Ayah cuma mahu kasih sayang. Kalau kalian lupa, lihat wajah ibu kalian, yang melahirkan kalian dengan taruhan nyawa.”

Salwa menangis, berlari ke bilik, air matanya bagai hujan tiba-tiba. Faizal menunduk, wajahnya penuh sesal seperti tanah merindu air. Amir duduk di sampingku, memegang bahuku.

“Maaf, Ayah. Kami lalai,” katanya, suaranya rendah seperti sungai perlahan.

“Anak-anak ayah baik, cuma dunia ini kabut yang mengaburkan hati,” jawabku, menenangkan badai di dada.

Malam itu, rumah sunyi, namun penuh kedamaian, seperti danau tenang usai badai. Hanis bertanya, “Ayah nak makan apa esok?”

Aku tersenyum, hati bagai tanah gersang disiram embun.

Tapi takdir tak berhenti menulis. Halimah jatuh sakit, tubuhnya rapuh seperti daun menanti gugur. Anak-anak bergilir menjaga, melihat wajah ibu mereka yang pucat, bagai bulan kehilangan cahaya. Barulah mereka dengar degup kasih yang diabaikan.

Rumah mengenal rindu dan sabar. Bau minyak angin dan bacaan Yasin menggantikan drama maya. Syakir mencium ubun ibunya, berbisik doa seperti anak kecil takut kehilangan pelita.

Pagi yang tenang, Halimah menggenggam tanganku, jarinya dingin namun penuh makna.

“Abang, anak-anak kita akan kembali. Terima kasih kerana berdoa,” katanya, suaranya bagai angin membawa aroma bunga kenangan. Beberapa hari kemudian, dia pergi, seperti burung terbang ke langit tanpa jejak.

Rumah sunyi, namun penuh gema kenangan. Aku teringat sahabat lama—Hasan, meninggal akibat barah; Murad, lumpuh separuh badan; Farid, terlantar bertahun-tahun.

Di Dubai, tempatku bekerja dua dekad, banyak sahabat pergi—meninggal, hilang ingatan, atau bergantung pada ubat. Kami pernah muda, berjasa, tapi dunia melupakan, seperti pasir tersapu ombak.

Aku kembali ke beranda, memandang langit jingga. Aku masih menulis, walau jari kaku, membaca walau mata kabur, mengingati walau banyak yang pergi.

Album lama ku buka—foto hitam putih saat aku kurus dengan jambang nipis, Halimah mengendong Amir, raya pertama di Brickfields. Semua bagai manuskrip usang.

Satu malam, Syakir duduk di sampingku. “Ayah, cerita macam mana kenal Ibu.” Aku tertawa, cerita itu seperti lagu lama.

“Ibu kamu gadis pendiam tapi berani, seperti bunga di tepi jurang. Dia tegur Ayah tak lipat baju betul di kedai masa cuti universiti. Jatuh hati terus.”

Syakir tergelak. “Terus lamar?”

“Tak. Ayah tulis surat, empat muka surat. Ibu balas, tulisannya cantik, macam doa bersajak. Ayah simpan salinannya.”

“Saya rindu ibu,” katanya, termenung.

“Ayah pun. Tapi rindu tak membawa duka kalau diiringi doa,” jawabku, hati bagai lautan tenang.

Aku bangun tanpa tongkat, kudrat entah dari mana, seperti angin mengisi layar kapal. Aku capai mushaf, baca Surah Yasin, seolah Halimah mendengar, rumah khusyuk.

Kemudian, aku dijemput berucap di masjid tentang pengalaman pesara lumpuh yang menulis kembali.

Aku di kerusi, menghadap jemaah, Amir dan Syakir di belakang, Salwa merakam, Hanis siapkan slaid, Faizal urus kerusi roda.

“Saya tak sempurna, tuan-tuan. Tapi saya bangkit kerana Allah tak biarkan doa jatuh tanpa gema. Anak-anak saya tak sempurna, tapi mereka belajar erti kasih. Saya pernah dilupakan, kini dipeluk semula.”

Ramai tersedu-sedu. Seorang jemaah memelukku, ayah yang juga merasa sunyi.

Anak-anakku kini bergilir datang, kadang dengan cucu. Rumah bernafas, seperti taman mekar usai musim kering. Tapi tiada ganti Halimah. Ada malam aku dengar angin, seperti suaranya memanggil. “Ya, Mah…” jawabku dalam hati, hanya gema rindu.

Pagi damai usai Subuh, aku di sejadah, bibir menggigil menyebut nama anak-anak dalam doa. Aku rebah perlahan.

Syakir menjerit, “Ayah!” Aku tidak menjawab, wajahku tenang, seperti embun reda di hujung daun.

Salwa memeluk Hanis yang tersedu-sedu. Amir memimpin Syakir. Faizal mengusap tanganku yang sejuk.

Dalam diam, mereka faham: kasih ayah seperti matahari—panasnya menyilau, tapi tanpanya, hidup tak cukup cahaya.

Aku pernah tersesat, di New Zealand, lupa adik-adik, terlena dunia baru. Tapi kasih keluarga membawaku pulang. Anak-anakku kini belajar, seperti aku dulu.

Aku seorang ayah, abang, anak. Aku tidak pernah benar-benar pergi. Kasih yang ikhlas, walau terlambat, selalu kembali, seperti senja yang memeluk malam. – UTUSAN

Tidak mahu terlepas? Ikuti kami di

 

BERITA BERKAITAN

×