DEMOKRASI sebagai sistem pemerintahan menjadi landasan bagi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Namun, dalam praktiknya, demokrasi bukan hanya soal kebebasan berpendapat atau penyelenggaraan pilihan raya, sebaliknya berkaitan nilai-nilai yang mendasari bagaimana demokrasi dijalankan.
Dalam hal ini, Presiden Republik Indonesia yang baharu, Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, berkongsi pandangan yang seiring mengenai perlunya menerapkan demokrasi yang santun, iaitu sebuah konsep yang menekankan penghormatan, dialog tanpa kebencian serta menjauhi kekerasan dan hasutan.
PEMIKIRAN PRABOWO: DEMOKRASI SANTUN
Dalam pidato perdananya sebagai Presiden Indonesia pada 20 Oktober lalu, Prabowo menekankan pentingnya menjaga kesantunan dalam berdemokrasi.
Baginya, demokrasi Indonesia harus didasarkan pada sejarah dan budaya bangsa, mengakui nilai-nilai Pancasila, terutama sila keempat yang menempatkan kedaulatan rakyat sebagai prinsip utama.
Prabowo menggariskan perbezaan pendapat dalam demokrasi seharusnya tidak menimbulkan permusuhan atau kebencian.
Beliau menyatakan demokrasi yang ideal adalah yang damai, penuh kehormatan dan jauh dari fitnah atau kekerasan.
Prabowo percaya persatuan dan kerja sama adalah kunci untuk membawa Indonesia mencapai cita-cita besar bangsa.
Setelah pemilihan atau perdebatan politik, beliau menyatakan betapa pentingnya merangkul semua pihak yang terlibat.
Demokrasi, bagi Prabowo, bukan soal menang atau kalah semata, tetapi bagaimana bangsa dapat terus bergerak maju dengan bersatu.
PEMIKIRAN ANWAR: DEMOKRASI BERADAB
Di Malaysia, Anwar juga sudah lama menyuarakan konsep demokrasi yang beradab dan bertanggungjawab. Dalam banyak pidatonya, Anwar menegaskan kebebasan berpendapat adalah hak asasi setiap individu, namun selalu mengingatkan pentingnya menjaga adab dan moraliti dalam mengutarakan pendapat.
Anwar kerap menyebut demokrasi harus berlandaskan keadilan, dengan pemimpin dan rakyat dapat berbincang secara terbuka, tetapi dengan menjaga rasa hormat dan tidak melupakan etika.
Anwar sering kali menekankan Malaysia, sebagai negara dengan latar belakang multi etnik dan agama, harus memperkuat demokrasi yang mengutamakan kesejahteraan bersama dan menghindari konflik.
Seperti Prabowo, Anwar juga mengkritik politik hasutan dan provokasi yang dapat memecah belah rakyat.
Bagi Anwar, demokrasi yang matang adalah demokrasi yang mampu mencipta perdamaian dan kesejahteraan sosial, bukan memecah belah masyarakat.
HINDARI PERMUSUHAN DAN TINGKATKAN DIALOG
Kesamaan utama dalam pemikiran Prabowo dan Anwar mengenai demokrasi yang santun terletak pada keinginan mereka untuk melihat proses politik yang lebih damai dan beradab. Keduanya menolak praktik politik yang memperuncing perbezaan dan memecah belah rakyat.
Prabowo menekankan demokrasi yang bertarung tanpa kebencian dan berdiskusi tanpa caci maki sementara Anwar mendorong wacana demokrasi yang terbuka tetapi bermoral, dengan menjaga hubungan sosial yang harmoni.
Bagi keduanya, politik tidak boleh menjadi medan pertempuran yang merosakkan integrasi sosial.
Prabowo dan Anwar memandang demokrasi sebagai alat untuk memajukan negara dengan mengedepankan dialog yang sihat, merangkul semua pihak dan menjauhi praktik-praktik curang atau kekerasan.
Dalam konteks politik global saat ini, yang semakin dipengaruhi oleh gelombang populisme dan politik identiti, pandangan Prabowo dan Anwar tentang demokrasi yang santun menjadi semakin relevan.
Populisme sering kali membawa retorik yang ‘keras’, menimbulkan perpecahan dan menciptakan polarisasi dalam masyarakat.
Di tengah tantangan ini, kedua pemimpin itu menawarkan alternatif melalui demokrasi yang lebih beradab, dengan integriti politik dan kesantunan sosial tetap terjaga.
Pandangan Prabowo dan Anwar juga bergema dengan konsep tadbir urus yang baik menekankan ketelusan, akauntabiliti dan etika dalam menjalankan pemerintahan.
Mereka berdua mengingatkan demokrasi bukanlah sekadar medan untuk meraih kekuasaan, tetapi juga tentang tanggungjawab moral pemimpin untuk menjaga keharmonian sosial dan memajukan kesejahteraan rakyat.
DEMOKRASI SEBAGAI CERMIN KEBUDAYAAN
Pemikiran Prabowo dan Anwar mengenai demokrasi yang santun mencerminkan pandangan demokrasi harus sesuai dengan nilai-nilai budaya dan moral yang mendasari bangsa. Keduanya menolak politik yang memperuncing perbezaan dan menciptakan permusuhan.
Sebaliknya, mereka mendorong politik yang mengutamakan dialog, persatuan dan kerja sama demi mencapai tujuan nasional yang lebih besar.
Demokrasi yang santun tidak hanya penting untuk menjaga kestabilan politik, tetapi juga untuk memastikannya tetap menjadi instrumen yang membawa kemajuan bagi masyarakat.
Dengan mengedepankan prinsip-prinsip etika dalam demokrasi, Prabowo dan Anwar menekankan pentingnya memupuk rasa hormat dan tanggungjawab dalam kehidupan politik, yang pada akhirnya akan memperkuat tatanan demokrasi di Indonesia dan Malaysia.
Dalam dua tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Anwar, indeks demokrasi Malaysia mengalami beberapa perubahan yang signifikan, menurut laporan Freedom House.
Pada 2022, Malaysia berada dalam kategori ‘sebahagiannya bebas’ dengan skor keseluruhan mencerminkan beberapa kemajuan dan tantangan dalam kebebasan awam dan hak politik. Pada tahun itu, Malaysia mendapat skor 51 dari 100, dan pada 2023, skor ini naik menjadi 53 dari 100.
Sementara di Indonesia, Prabowo mendapatkan warisan, indeks demokrasi Indonesia yang didedahkan Freedom House menunjukkan adanya penurunan dalam kualiti demokrasi.
Menurut laporan, Freedom in the World dari Freedom House, pada 2022, jumlah keseluruhan skor Indonesia adalah 59 dari 100 dan pada tahun berikutnya skor ini turun sedikit menjadi 58 dari 100.
Dicadangkan supaya kerjasama antara Anwar dan Prabowo dalam meningkatkan indeks demokrasi di Malaysia dan Indonesia dengan memberi fokus terhadap upaya bersama yang memperkuat demokrasi dan hak asasi manusia di kedua-dua negara.
Kerjasama ini dapat mencakupi pelbagai inisiatif yang berorientasi pada peningkatan kebebasan awam, ketelusan pemerintahan dan perlindungan hak asasi manusia selaras dengan konsep demokrasi santun dan beradab.-UTUSAN
PENULIS ialah Pensyarah Fakulti Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, Indonesia dan ahli Pusat Jaringan Analisis Politik Malaysia-Indonesia (CPAMIN).










