Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hutan lebat, terdapat sebuah legenda yang telah turun-temurun diceritakan oleh para penduduk. Legenda ini berkisah tentang selempang merah. Kain sutera halus yang memiliki kekuatan luar biasa.
Seperti matahari yang memancarkan sinar. Siapa pun yang mengenakannya akan diberikan kemampuan hebat tetapi juga harus menghadapi kutukan yang mengerikan.
Selempang ini bagaikan dua sisi yang berbeza. Memberikan kebaikan dan membawa bencana. Desas-desus menyatakan bahawa selempang itu dijaga oleh roh jahat yang terkurung dalam hutan. Seolah-olah menjadi penunggu bayangan bagi siapa yang berani mengambilnya.
Suatu hari, Salina seorang gadis muda yang cerdas dan berani. Dia tengah menjelajahi hutan untuk mencari ubat herba. Rasa ingin tahunya membuatnya terus melangkah lebih dalam ke dalam hutan.
Meski suasana semakin mencengkam, seperti langkah kaki yang menjauhi cahaya. Saat menjelajah, Salina menemukan gua tua yang tersembunyi di balik semak-semak. Dengan rasa ingin tahu yang membara, dia memasuki gua itu.
Di dalam, Salina melihat sesuatu yang berkilau di sudut ruangan seperti bintang yang terperangkap dalam kegelapan. Saat mendekat, dia mendapati selempang merah yang indah terletak di atas batu.
Dikelilingi cahaya mistik yang lembut tetapi di sekelilingnya juga terdapat bayangan gelap yang bergerak perlahan. Seolah ingin memperingatkan kehadirannya.
Tanpa fikir panjang, Salina mengambil selempang tersebut dan membawanya pulang. Meski hatinya terasa berat seperti beban tak terlihat. Begitu tiba di rumah, dia merasa terpesona oleh kecantikan dan keanggunan selempang merah itu.
Namun saat mengenakannya, dia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulangnya. Seolah-olah ada kekuatan yang menjalar ke dalam dirinya, menjadikannya bahagian dari teka-teki yang tak terpecahkan.
Sejak saat itu, hidup Salina berubah drastik. Dia menjadi lebih pintar dan kuat seperti pohon yang tumbuh di tengah badai. Namun teman-temannya yang awalnya selalu berada di sampingnya mulai menjauh. Seolah ada batas yang tidak terlihat antara mereka.
Kehidupan baru Salina mula berubah. Setiap kali dia mengenakan selempang merah itu, kejadian aneh mulai terjadi. Teman-temannya mengalami berbagai kesialan. Ada yang jatuh sakit, ada pula yang kehilangan barang berharga.
Suatu malam saat Salina sedang tertidur, dia terbangun dari mimpi buruk yang penuh penyesalan. Dalam mimpinya, sosok wanita berpakaian putih dengan wajah pucat muncul dan menatapnya dengan mata penuh kemarahan.
Seolah-olah menyalahkan Salina atas penderitaan yang menimpa orang-orang di sekitarnya seperti bayangan hitam yang mengikuti langkahnya.
Setelah sahabat baiknya mengalami kecelakaan. Salina tahu saatnya untuk mencari tahu lebih dalam tentang kutukan yang membebani selempang merah itu. Dengan tekad yang bulat, Salina bergegas pergi menemui nenek tua yang dikenali.
Nenek tua itu tahu semua cerita yang terjadi di desanya dan kaitan dengan selempang merah. Nenek tua ini seperti rumah api yang menyuluh dalam kegelapan. Mata batinnya tajam.
Nenek tua itu adalah perempuan yang bijak. Selalu dikelilingi oleh anak-anak yang mendengarkan kisah-kisahnya. Saat Salina tiba, nenek tua itu segera merasakan beban yang ada di hati Salina.
“Apa yang membawamu ke sini, nak?” Tanya nenek tua dengan lembut. Suaranya seperti aliran sungai yang menenangkan. Salina menceritakan segalanya. Mulai daripada penemuannya hingga kesialan yang menimpa orang di sekelilingnya.
Nenek tua itu mendengarkan dengan tekun dan akhirnya berkata, “Selempang merah itu bukan sekadar hiasan melainkan sebuah simbol. Ia dulunya milik seorang puteri yang terjebak dalam cinta terlarang, bagaikan bunga yang terpisah dari sinar matahari.
“Puteri itu mengenakannya sebagai simbol pengorbanan. Kutukan akan menimpa siapa pun yang menggunakannya tanpa memahami akibatnya. Roh yang terkurung dalam hutan adalah penjaga selempang merah ini. Dan ia menginginkan agar kekuatan ini digunakan dengan bijaksana.”
Malam itu, Salina kembali ke rumah dengan perasaan cemas. Dia terbangun di tengah malam, mendengar suara bisikan samar-samar yang memanggil namanya. Suara itu terdengar seperti suara wanita yang merintih bagaikan angin yang mengeluh dalam hutan.
Saat dia beranjak dari tempat tidur, bayangan gelap tampak bergerak di sudut kamarnya. Hati Salina berdebar kencang tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan ketakutannya. Menariknya seperti magnet ke dalam kegelapan.
Hari demi hari berlalu, Salina berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dia buat. Tetapi kutukan itu seolah mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Seperti bayang-bayang yang tidak dapat dipisahkan. Setiap malam, dia terus bermimpi buruk. Melihat sosok wanita putih itu menatapnya dengan penuh amarah.
Dalam mimpinya, wanita itu selalu mengulurkan tangan. Seolah ingin menarik Salina ke dalam kegelapan. Mahu menjadikannya bahagian dari dunia yang suram.
Suatu malam, saat Salina tengah membantu seorang anak kecil yang sakit. Dia merasakan bahawa tindakan kecil itu memberi kebahagiaan bukan hanya kepada anak itu tetapi juga kepada dirinya sendiri. Saat memandangi wajah ceria anak itu yang akhirnya sembuh.
Salina merasa hatinya bergetar. Dalam momen tersebut, selempang merah itu mulai bergetar dan mengeluarkan cahaya lembut. Dia menyedari bahawa niat baik dapat mengubah segalanya seperti sinar mentari yang mampu menembusi kabut.
Namun malam itu, saat Salina tidur. Dia kembali bermimpi. Kali ini, dia berada di dalam gua tempat dia menemukan selempang merah.
Di dalam gua itu, dia melihat wanita berpakaian putih itu tetapi kali ini dengan mata penuh haru.
“Kau harus melepaskan kutukan ini, Salina. Hanya dengan tulus kau dapat menyelamatkan jiwa-jiwa yang terjebak,” bisik wanita itu dengan suara lembut namun penuh kesedihan. Seolah-olah memohon kepada Salina untuk memahami beban yang dipikulnya.
Dengan harapan baru, Salina memutuskan untuk mengenakan selempang merah sekali lagi tetapi kali ini dengan niat tulus. Dia ingin membuktikan bahawa cintanya pada orang di sekeliling lebih kuat daripada kutukan itu.
Dalam sekejap, cahaya daripada selempang itu menyelimuti dirinya dan semua yang ada di sekelilingnya. Kutukan yang membelenggu mulai menghilang tetapi bayangan gelap tetap mengintai. Menunggu kesempatan untuk kembali seperti serigala yang mengintai mangsanya.
Selempang merah itu pun perlahan-lahan menghilang dan meninggalkan Salina dengan pengalaman berharga. Dia belajar bahawa kekuatan sejati datang dari hati yang tulus dan pengorbanan kepada orang lain.
Sejak saat itu, desa itu kembali aman dan penduduknya saling bekerjasama. Salina dikenal bukan hanya sebagai gadis pemberani tetapi juga sebagai penyelamat penduduk setempat.
Walaupun kutukan itu telah terputus. Salina tidak melupakan pelajaran yang dia dapatkan. Dia mulai mengajak teman-temannya untuk bersama-sama bekerjasama dalam kegiatan sosial.
Membangunkan rasa tanggungjawab dan saling ambil berat antara satu sama lain.
Setiap bulan mereka mengadakan acara mengutip dana untuk membantu warga yang memerlukannya. Namun setiap kali malam tiba, Salina masih merasakan kehadiran bayangan gelap yang mengawasi dari kejauhan seperti kabut yang tak pernah hilang.
Dengan semangat baharu, Salina juga mulai belajar tentang berbagai tradisi dan cerita dari desanya. Dia mengumpulkan kisah-kisah lama dan bercerita kepada anak-anak kecil. Dalam satu acara yang diadakan di desanya.
Dia menceritakan tentang roh yang menjaga selempang merah dan pentingnya hati yang tulus. Namun saat bercerita, dia merasakan angin dingin yang bertiup. Seolah roh itu masih mengawasi setiap kata yang diucapkannya. Membentuk atmosfera yang penuh ketegangan.
Seiring berjalannya waktu, Salina menjadi rujukan di desanya. Namun, malam-malamnya diisi dengan mimpi buruk dan bisikan-bisikan yang tidak kunjung reda. Ramai orang mulai mendatangi dirinya untuk meminta nasihat dan bimbingan.
Dia tidak hanya menjadi seorang teman tetapi juga seorang pemimpin untuk mendapat nasihat dan tunjuk ajar.
Salina tahu, kutukan selempang merah telah mengajarinya untuk hidup dengan perilaku baik dan kasih sayang. Namun dia juga menyedari bahawa kegelapan masih mengintai.
Suatu hari, saat Salina sedang berkumpul dengan kanak-kanak. Dia menceritakan kisahnya. Kanak-kanak itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Seola-olah terpegun oleh cerita yang disampaikan Salina.
Namun, saat Salina menyebut selempang merah, tiba-tiba udara menjadi berat dan hening. Mereka semua merasakan adanya sesuatu yang menyeramkan. Seperti bayangan gelap itu kembali semula. – UTUSAN










