Si Dara baru pulang dari kuliahnya dihantar oleh kekasih yang masih haram baginya itu. Pukul 5 petang, Dara sampai di rumah.Terus masuk ke dalam bersama pemuda tampan tersebut untuk menjumpai ibunya.

“Ini ibu!” Dara memberitahu lelaki yang bersamanya itu.

Iaitu ibu kandungnya, setelah di luar tadi, dia sudah memperkenalkan Aman kepada ayahnya. Ibu itupun dengan sedikit sibuk, bersalaman dan mempersilakan pemuda tinggi berbadan tegap itu untuk duduk.

Pukul 5.30 petang pada hari Jumaat, pemuda berkulit putih itu minta diri untuk keluar dari rumah Tuan Shaleh dan Puan Amanah.Sebelum dia sempat keluar dari pagar buluh rumah tersebut, dia menyalami tuan Shaleh yang masih rehat di atas pondok klasiknya itu. Dan rupanya Tuan Shaleh belum mengizinkan Aman untuk pulang dahulu.

“Kampungnya nak Aman di mana?” Tuan Shaleh bertanya.

“Kampung Belukar, di daerah utara ayah. Dan di sini saya masih kuliah, belum pun selesai, pada hal sudah semester sembilan sekarang ini.” Aman terdiam sejenak.

“Anakku! Jangan terkejut atas pernyataanku ini dan tak usah resah akan dirimu. Walau mungkin apa yang akan saya sampaikan ini akan membuat dirimu terkejut.Akan tetapi jangan fikirkan tentang mahar yang belum engkau punya, jangan fikirkan tentang kerja yang belum ada.” Ia terus berkata-kata.

“Jangan fikirkan tentang segala sesuatu yang bukan urusanmu.Ayah hanya mahu kamu segera memberitahu kedua orang tuamu dan kita persiapkan hari pernikahan kalian.” Tuan Shaleh menyambung lagi tuturnya.

“Ayah mahu kalian cepat-cepat menikah daripada terus-terusan saya berdosa kepada Allah, kerana saya mampu untuk membiayai kehidupan rumah tangga kalian setelah pernikahan ini. Saya mampu untuk itu, sampai saatnya engkau berdikari dan ada kerja tetap untuk dirimu dan boleh menyara isteri/anak-anakmu nanti.” Ia terus berkata-kata.

“Saya dahulu juga dinikahkan oleh calon ayah mertua saya.Di awal pernikahan dulu, saya juga belum memiliki apa-apa.Walau sekarang sudah mempunyai perniagaan mantap, kereta dan berbagai macam jenama.” Ia terdiam sejenak dan kembali berkata-kata lagi.

“Semua itu saya dapatkan setelah menikah, bukan sebelum menikah.Sudah saya katakan kepadamu tadi wahai anakku, bahawa saya belum memiliki apa-apa sebelum dan di awal membina rumah tangga!” Tuan Shaleh terlihat sangat bersemangat.

Aman bertambah mengkerut kulit di wajah putihnya itu, “Apa gerang aku hari ini” gumannya lagi di dalam hati.

“Jangan bingung lagi, daripada saya berdosa, tiada guna berbanyak harta, sedangkan keluarga tidak mampu untuk saya jaga. Sungguh kemelut yang tidak boleh saya bayangkan, saya malu sama Tuhan. Maka kalian saya suruh menikah dalam waktu dekat. Saya lihat Aman sudah tepat pada waktunya untuk berkeluarga.” Belum juga berkesudahan akan kata yang keluar dari mulut ayah yang faham dan tahu agama itu.

“Dan begitu juga si Dara,kalian pasangan serasi.Kuliah jangan difikir, bukan masalah itu. Pada waktu kuliah, kuliahlah kalian, biaya hidup, saya yang tanggung.Saya pertegaskan lagi, jangan ragu-ragu lagi, ini benar kata saya.” Tuan Shaleh terdiam.

Setelah bercakap selama kurang lebih 40 minit, yang mana percakapan mereka tersebut langsung mengarah kepada persoalan yang sangat serius sekali. Sehingga membuat keringat dingin bercucuran nampak membasahi baju kemeja berwarna hitam Aman.

Adapun perihal persoalan itu sudah sangat jelas, ialah mengenai pernikahan mereka yang sudah langsung disetujui oleh Tuan Shaleh tersebut dan dia yang menyuruh Aman menikahi anaknya Dara. Sekali gus meminta Aman untuk segera memberitahu orang tuanya di kampung.

Entah-berantah akan isi fikir yang bermuara di kepala anak muda tersebut. “Apakah ini mimpi?” Gumannya di dalam hati sambil mencubit tangannya sendiri.

“Aw, Sakit!”

“Nak Aman kenapa?” Tanya Tuan Shaleh yang tiba-tiba mendengar suara pekik dari Aman.

“Ta, ta, tak ada apa-apa ayah!” Ia menjawab, sambil memalingkan wajahnya yang kian memerah ke arah jalan. Dan bukan ia belum berkeinginan untuk menikah, malahan sebaliknya.

Wajah kekuyuan terpampang jelas di wajah kacak Aman. Seperti mimpi ia untuk hari ini, pada halnya baru dua kali ini, ia pergi ke rumah si Dara. Dan bertemu muka dengan Tuan Shaleh dan isterinya baru sekali ini. Walau mereka tahu akan hubungan anak gadisnya itu yang sudah sekian tahun terbina antara keduanya.

Tuan Shaleh sudah memberi izin Aman untuk pulang, ia masih terduduk sendiri di atas pondok itu. Matahari terus terbenam, cakrawala langit begitu terlukis indah. Menampakkan rona-rona jingga di ufuknya.

“Bersebabkah oleh agama, adakah mahar mahal yang dianjurkan agama, adakah harus punya usaha dan berbanyak harta dahulu, baru boleh menikah dalam agama, ataukah penggila-penggila dunia yang berhukum pada demikian hukum buatannya sendiri.” Tuan itu sekarang membatin sendiri.

“Bukan bererti tiada memiliki apa-apa itu belum boleh menikah, bukan!Tolong fahami lagi agama, kita yang memiliki/mampu untuk membiayai mereka dalam hal menikah. Kenapa tiada untuk membantu, biarkan sahaja dulu rumah tangga itu seadanya. Nanti mereka juga akan berubah sendiri. Rezeki sudah diatur oleh Allah S.W.T. Kita hanya tinggal mencari, berdoa dan berusaha.” Ia terdiam dan masih rehat di atas pondok tersebut.

Awan-awan semakin kelabu, entah itu sebuah petanda akan turunnya hujan. Burung-burung terlihat sibuk menerbangi diri ke tempat persinggahan peribadi. Suara azan terdengar beralun-alun sendu dari kejauhan. Adalah itu petanda yang pasti bagi umat yang bertuhan untuk menunaikan hutang peribadi masing-masing.

Hari-hari terus berlalu, acara demi acara telahpun terjadi, orang tua Aman memberi maklum balas yang sangat baik akan apa yang disampaikan anak lelakinya itu. Dan bersegera pula menjumpai orang tua Dara yang berada di kota, pada waktu yang telah ditentukan. Dan menikahlah keduanya.

Cuba sahaja ada banyak orang tua seperti mereka itu, nescaya anak-anak luar nikah pasti akan berkurang dengan sendirinya. Anak-anak muda tiada lagi yang pacaran, kerana kalau sudah tepat pada waktunya, mereka akan terus menikah dan membina rumah impian.

Tiada lagi hambatan atau halangan yang membuat anak-anak manusia itu kian terjerumus ke dalam dosa.Sungguh tiada lagi akan banyak seperti sekarang ini. Firdaus adalah tempat bagi para orang tua seperti itu. Tahu agama,memahami dan mengerti pada apa itu agama.

Adalah ini,sebuah perjalanan menjala impian.Dalam waktu yang tidak boleh disimpulkan, akan kemuliaan dan kebahagiaan sungguh dengan mudah untuk didapati.Berbahagialah Aman dengan si Dara, isterinya, berbahagialah orang-orang yang selalu berdoa dan terus berusaha. Makmurlah keluarga-keluarga yang amanah, sentiasa berbahagia di dunia.Dan akan dipertemukan oleh Allah di Firdaus nantinya.

NOTA: Beberapa perkataan bahasa Indonesia diubah ke bahasa Malaysia.