Ketika puluhan penonton duduk mendengar muzik di meja masing-masing dan ada yang sedang berjalan membawa minuman dan makanan, ombak melanda secara tiba-tiba. Oh! sedih sekali.

Serta-merta terngiang-ngiang di kepala saya dua rangkap bait-bait puitis lagu berjudul Bila Tiba dendangan kumpulan Ungu:

Mati tak bisa untuk kau hindari
Tak mungkin bisa engkau lari
Ajalmu pasti menghampiri


Mati tinggal menunggu saat nanti
Ke mana kita bisa lari
Kita pastikan mengalami... mati

Maut itu tak terlewat walaupun sesaat. Tidak terduga langsung.

Ibnu Umar berkata: “Aku bersama Rasulullah, lalu seorang lelaki Ansar datang kepada Baginda mengucapkan salam lalu bertanya: Wahai Rasulullah. Manakah antara kaum mukminin yang paling utama? Baginda menjawab: Yang paling baik akhlaknya antara mereka.

Dia bertanya lagi: Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?
Baginda menjawab: “Yang paling banyak mengingati kematian antara mereka dan paling bagus persiapannya selepas kematian. Mereka itu orang-orang yang cerdik.” (Hadis Riwayat Imam Ibnu Majah)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran: 185)

Maut itu telah ditentukan waktunya oleh Allah. Dan hanya Allah yang tahu bila maut tersebut akan menjemput. Setiap makhluk tidak ada yang tahu persis tarikh dirinya akan mati.

Seandainya kita mengetahui bila kita akan mati, mungkin kita akan bersiap diri dengan melakukan taubat nasuha sebelum ajal menjemput dan beribadah lebih banyak lagi.

Namun sayang sekali kerana ketidaktahuan kita tibanya ajal, banyak kalangan rakan kita yang alpa dan asyik ketika ajalnya menjemput.

Ada yang mati pada saat sedang mabuk atau berada di disko. Ada yang mati pada saat sedang melakukan maksiat. Tragis sungguh nasib mereka.

Namun ada pula yang mati semasa melakukan rakaat terakhir qiyamul lail, sedang solat wajib, mati ketika berjihad. Ada pula yang menjelang ajalnya terlebih dahulu menyebut lafaz laa ilaaha illallah.

Telah diriwayatkan dalam hadis dari Ka’ab a1- Akbar ra: “Sesungguhnya Allah Taala telah menciptakan pohon di bawah Arsy dan di atas pohon itu tumbuh dedaunan yang jumlahnya sama dengan bilangan seluruh makhluk. Dan ketika telah sampai ajal seorang hamba dan umurnya hanya tersisa 40 hari, maka daun itu akan jatuh di atas tempat di mana Malaikat Izrail berada di situ.

Maka, ia pun akan faham bahawa sesungguhnya ia telah diperintah untuk mencabut nyawa orang yang memiliki nama pada daun itu.

Setelah jatuhnya daun itu, maka seluruh malaikat mulai saat itu menamakan (menyebut) orang itu dengan nama ‘mayat’ di alam langit. Orang yang namanya tercatat dalam daun itu disebut mayat oleh para malaikat mulai saat itu, padahal ia masih hidup di atas hamparan permukaan bumi selama 40 hari lagi.”

Apakah nama kita saat ini juga telah diganti dengan sebutan ‘mayat’ oleh para malaikat? Jika memang benar, mulai bila para malaikat menyebutnya?

Andai kita mengetahui akan hal itu, nescaya sisa umur yang tinggal sesaat lagi ini akan kita pergunakan untuk amal yang paling berharga dalam hidup.

Sesungguhnya setelah kehidupan ini selesai, jasad kita hanya tertidur selamanya untuk menantikan datangnya Hari Kiamat.

Jadi, untuk apa lagi kita leka tanpa menyediakan langsung ruang masa untuk beribadah - menyeimbangkan tuntutan dunia dan akhirat - jika ternyata kehidupan kita di bumi ini tidak lebih dari 40 hari?