Penjual di warung itu seorang perempuan setengah baya. Tubuhnya gemuk dengan gelungan rambut yang diikat karet gelang. Ia sendiri tanpa ditemani pembantu yang biasanya lebih muda dan seksi. Di warung itu, ada seorang pemuda frustasi. Sudah menghabiskan sebungkus rokok dan dua cangkir kopi. Matanya mengisyaratkan kalau sedang melamunkan sesuatu. Hujan belum berhenti. Mereka terlihat berdua namun seperti sendiri. Saling berfikir dengan otak masing-masing. Tak peduli satu sama lain.

Hujan masih turun. Seakan ingin memenuhi dunia untuk memulai perjalanan dengan perahu Nuh. Genangan berwarna hitam hampir naik ke lantai warung. Namun dua orang itu tak peduli. Mereka masih asyik dengan khayalan masing-masing.

Ombak menghanyutkan warung. Asih nama pemilik warung itu berusaha memanggil seseorang. Namun suaranya tak mampu mengalahkan suara hujan. Semua orang hanyut terbawa banjir. Kapal Nuh yang dinantikan tak kunjung menyelamatkan.

Seekor tikus mendekati Asih.

“Kau memanggilku?” tanya tikus.

“Hah.” Asih kaget mendengar tikus boleh berbicara.

“Ku mendengar tadi kau memanggilku.”

“Tikus boleh berbicara!” Asih masih kaget dan penasaran.

“Hahaha. Kau hanyut dan memasuki dimensi di mana semua makhluk dapat berbicara.”

“Di mana aku sekarang?”

“Kau berada di dimensi antara alam jin dan manusia. Di sini, semua binatang boleh bicara dan mempunyai nama.”

“Apa aku sedang bermimpi? Jangan-jangan kau pemuda yang ngopi di warungku dan belum bayar!,”Asih masih memegang papan kayu.

Matanya terbuka. Dia sudah berada di kasur empuk putih seperti di filem. Dia melihat kucing berdiri dan tikus di sampingnya. Mereka sebesar tubuhnya.

Di luar hujan masih turun. Seakan tidak mahu berhenti. Dan rasanya kota itu seperti diguyur hujan dari pertama kali diciptakan. Asih memegang kepala yang terasa sangat berat. Hidungnya mbeler. Matanya perlahan terbuka. Ia kaget melihat makhluk asing di depannya.

“Kau manusia?” tanya Kucing.

“Kalau sudah tahu kenapa bertanya. Aku di mana?”

“Kau berada di kota di mana hujan tak pernah berhenti. Kau di dimensi di mana segala makhluk boleh berbicara,” jelas Tikus.

“Apa? Mungkin aku bermimpi.”

Hujan masih terdengar. Rintik-rintik airnya begitu mententeramkan. Asih kembali tidur. Selimut tebal dengan harum aroma terapi mengantarnya kembali bermimpi.

Asih berjalan ke dalam hutan. Dengan anjing yang setia dari haiwan apa pun di dunia. Tanpa alas kaki. Dia membawa payung, sedang anjing berukuran sedang mengikuti di belakang sambil menjulurkan lidah. Semua terlihat hitam. Pohon besar dengan semak-semak bergerombol di pinggirnya. Semua pohon itu tak berdaun. Dan semua berwarna hitam, ada yang pekat, ada yang legam. Dia tak peduli, siapa yang peduli pohon di dunia ini kecuali kelompok pencinta lingkungan.

Asih berjalan lagi. Menapaki jalan becak berlumpur. Dia tak peduli kakinya yang menginjak kerikil dan batu yang mencuba menghambat langkahnya.

Anjing di belakangnya berdiri, dan menjadi sesosok pemuda tampan. Mereka sudah berada di tengah hutan. Dan bulan bersinar merah menyala, seakan ingin membakar apa saja.

“Kau siapa?! Di mana anjingku?”

“Akulah anjingmu.”

“Anjingku jelek, sedang kau tampan.”

“Aku tampan keranamu.”

“Apa!”

“Aku berubah kerana doamu.”

“Beri alasan yang masuk akal.”

Asih bangun. Dan didapatinya sepiring makanan dengan harum luar biasa lazat. Seakan tak ada makanan di dunia dengan keharuman seperti itu, bahkan keharumannya tak pernah dibayangkan oleh makhluk apa pun.

“Makanlah. Pasti kau lapar.”

“Makanan apa ini?”

“Bubur ayam.”

Asih melahapnya. Seolah dia tidak pernah makan sejak dilahirkan. Belum sampai tiga minit, dia telah menghabiskan makanannya.

Asih bangun berjalan mengelilingi ruangan, semua berwarna putih. Lantai, tembok, guci, jendela, gorden, langit-langit. Dia seperti memandang warna putih tanpa batas. Hanya putih di mana-mana. Semua benda berwarna putih. Mungkin aku sedang mati, batinnya.

Suara seperti kelelawar begitu menghebohkan telinga. Lalat-lalat kecil memakai helm dan berubah jadi besar. Ikan pakai dasi masuk rumah membawa ubat. Asih kaget menyaksikan semua itu. Mungkin aku masih bermimpi, desisnya.

Hujan masih turun. Langit seperti ingin memeras seluruh beban. Hitam dan sesekali kilat datang menyambar anak jin nakal. Hujan seperti tak ingin berhenti. Membentuk anak-anak sungai menuju ke selokan depan warung kopi. Asih masih tertidur. Sampai seseorang membangunkannya. Lelaki muda yang setia datang setiap malam ke warung kopi itu. Sebagai tukang beca dengan penghasilan yang amat sangat pas-pasan. Dia rela menghabiskan sebagian hasil kerja kerasnya untuk menemui bidadarinya di warung kopi ini.

“Siapa kamu?” tanya Asih sambil merapikan rambutnya yang agak kemerahan kerana semir.

“Ini aku, Joko.”

“Oh, maaf tadi aku bermimpi aneh sekali. La... terus pemuda yang nongkrong di situ ke mana?”

“Aku tidak tahu. Aku di sini sudah sejam yang lalu. Aku tak mau membangunkanmu, kamu terlihat nyenyak sekali. Buatkan kopi, sudah dari tadi aku menahan dingin.”

Malam itu, seperti malam sebelumnya. Dan malam-malam yang akan datang. Asih masih duduk dan menunggu. Sedangkan abang tukang beca masih setia datang menghabiskan malam bersama. Usia tak menjadi penghalang. Hanya cinta yang membuat bahagia, begitu kira-kira yang mereka rasakan. Hingga benar-benar lupa dengan masalah masing-masing.

Sementara langit mengamati mereka sambil menitikkan butir-butir air. Hanya sekadar air yang jatuh dari langit. Hanya hujan, bukan kenangan. Air datang perlahan, menenggelamkan jalanan kota. Menenggelamkan segala keserakahan.