kurus tinggi mencanak

tercongok di depan rumah

penunggu setia simpang

itu laksana tunjang ilham.

Kala kelambu malam melurut

wujud lingkungan sisi-sisi kelam

hidupan dunia gelap berkelintaran

mengawang bak layang-layang terliuk-liuk menari

juga melodi-melodi halus

tergubah bersama mersik kenderaan hilir mudik

membentuk koir bening malam.

Aku paling suka lenggok lincah si kelekatu

tiang lampu kebanjiran

serangga waja bersayap pinjaman

tidak pernah endah pujaannya itu hanyalah rembulan palsu

berjuang terus berjuang

menyayup mencecah cahaya

lampu jalan detak jantung

pencari rezeki larut malam memandu pulang

sering aku terlihat kaki lepak

budak motor dan kutu embun

berlonggok meminjam terang

suara mereka kekadang aku terkeliru mengacah pendengaran dalam ketiadaan.

Namun malam ini seisi alam berkabung

dingin hawa menangisi kehilangan malap suasana mengenang pemergian

maut tidak mungkir

hanya beberapa jam lalu

tiga nyawa tergadai di pangkalnya

darah muda dan mobil mencabar kelajuan

lampu jalan denyut nadi

diam-diam peragut nyawa.

Sendirian di serambi

sunyi.

Zalina Samsudin

Raub, Pahang